Daun Kumis Kucing Berkhasiat Sebagai Penambah Gairah Seks


BAB I
PENDAHULUAN
Ketidak harmonisan rumah tangga sering dipicu oleh adanya gangguan seksual dari salah satu pasangan, baik istri maupun suami. Terkadang suami merasa bahwa istrinya kurang bergairah ketika terjadi hubungan badan. Begitu pula sebaliknya, istri terkadang kurang puas dari hasil hubungan karena suaminya mengalami gangguan seksual. Masalah seksualitas bagi pasangan suami istri memang sangat penting, bahkan jika tidak diperhatikan bisa bersifat fatal (Krisnatuti dan Mardiana, 2003).
Pada dasarnya semua jenis gangguan seksual yang dialami oleh pria maupun wanita dapat diatasi, baik dengan cara medis maupun non medis yaitu dengan mengkonsumsi makanan atau ramuan obat tradisonal. Berdasarkan pada beberapa hasil penelitian, dimana banyak terdapat tanaman obat yang mengandung zat penambah dan sekaligus dapat memulihkan gairah seksual yang terganggu. Dengan ditemukannya senyawa perangsang daya tahan tubuh (adaptogen) oleh Dr. Israeli Brekhman (1928-1994) pada tanaman ginseng, merupakan awal dilakukannya penelitian terhadap obat tradisional khususnya jenis obat kuat. (Krisnatuti, 2003)
Di Indonesia cukup banyak tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan obat tradisional. Salah satu yang sering digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional adalah kumis kucing yang termasuk dalam suku lamiaceace. Kumis kucing biasa digunakan sebagai obat diuretik. Selain itu dapat juga digunakan sebagai obat penambah gairah seksual (afrodisiak). (Dalimartha, S., 2000)
Khaeriani syarifuddin, 2004, telah melakukan penelitian tentang uji Toksisitas Akut dan LD50 ekstrak etanol Daun Kumis kucing, hasilnya menunjukkan LD50 dari ekstrak etanol Daun Kumis kucing adalah 13,75 g/kg berat badan mencit.
Berdasarkan dari beberapa literatur yang menyebutkan bahwa Daun Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus Benth) dapat berkhasiat sebagai penambah gairah seks (Afrodisiak), maka permasalahan yang timbul adalah apakah infus Daun Kumis Kucing dapat memberikan efek afrodisiak  terhadap hewan uji Mencit jantan, dengan melihat intensitas atau frekuensi pendekatan, menungging dan penetrasi pada Mencit jantan, setelah pemberian infus Daun Kumis kucing pada kosentrasi 10%, 15% dan 20% b/v secara oral.
Berdasarkan dari hal tersebut di atas, maka telah dilakukan penelitian efek afrodisiak pada hewan uji Mencit jantan yang dibagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol, kelompok perlakuan infus Daun Kumis kucing dan kelompok pembanding dimana masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor hewan uji yaitu 3 Mencit jantan dan 3 Mencit betina. Pengamatan efek dilakukan selama 12 jam setelah larutan uji diberikan secara oral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek afrodisiak infus Daun Kumis kucing terhadap Mencit jantan. Sedangkan maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data ilmiah yang dapat menambah informasi tentang Daun Kumis kucing sebagai salah satu tanaman obat yang berkhasiat sebagai obat afrodisiak, sehingga penggunannya sebagai obat tradisional dapat dipertanggung jawabkan.
Download file selengkapnya 
Klik Disini

0 comments:

Post a Comment